Keberuntungan di Balik Kesialan
Aku
sudah mengira hidupku akan lebih berantakan lagi. Aku sudah mengirimkan sebuah
surat kepada teman perempuanku yang berisikan puisi yang kutulis di selembar
daun seperti di sebuah film india yang pernah aku tonton, aku juga
mengirimkannya bersama setangkai bunga melati yang putih dan harum. Aku
menitipkan surat itu ke Bi Inem pembantunya. Namun, esoknya pada hari senin dia
langung mendatangiku setelah bel pulang sekolah bordering.
“Apa maksud kamu ngirim surat ini?” Dia bertanya dengan
muka kesal.
“Aku cumin pengen dapet perhatian lebih aja dari kamu”
Aku menjawab dengtan muka tanpa dosa.
“Tapi kamu ga tau kan? kalau aku alergi sama melati!”
“oh! Maaf, aku ga tau. Maaf banget!”
“Tapi kamu terlanjur salah! Dan daunnya juga udah layu
lagi, bikin kesel aja!” Dia terus memarahiku sampai dia merasa puas walaupun
sepertinya dia tidak akan pernah puas. Aku berusaha untuk terus meminta maaf
setiap ia mengatakan sesuatu. Akhirnya dia memaafkan perbuatanku itu. Aku
berjanji padanya dan diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah melakukan hal
itu lagi.
Esoknya
aku berangkat sekolah dengan muka yang tidak terlalu meyakinkan. Saat aku masuk
ruang kelas yang sudah kusam dan sangat membosankan itu sudah terlihat banyak
siswa lainnya yang sedang beraktivitas disana seperti mengerjakan tugas yang
seharusnya dikerjakan dirumah, ada jugta yang sedang asik mengobrol, ada juga
yang sedng asik membaca walaupun membaca novel atau komik apa salahnya? Yang
penting membaca, ada juga yang sedang memainkan ponselnya seperti rteman
sebangkuku ini. Rudi, dia adalah teman sebangkuku yang sangat pintar dan rajin
sekali namun agak ‘lemot’, tapi tetap
dia teman terbaikku.
Setelah
terdengar bel yang menandakan bahwa saatnya ntuk belajar telah tiba. Saat semua
telah berlalu dan masuklah ke jam pelajaran ke-5 dimana bu Hana guru fisika ku
mengajar, pelajaran fisika adalah salah satu pelajaran yang tidak aku sukai
karena bu Hana agak galak, dan jika mengajar sangat tegas hingga tidak ada yang
lupupt dari penglihatannya. tapi aku tetap harus memperhatikan bu Hana. Saat bu Hana menerangkan aku agak
sedikit mengantuk karena memikirkan kejadian kemarin saat Yessi orang yang aku
kagumi telah mencaci maki aku. Di tengah pelajaran tanpa sadar aku telah
tertidur, aku dibangunkan oleh suara bu Hana yang berteriak ditelingaku, sontak
aku terbangun dan sudah pasti bu Hana memarahiku. Aku diberi hukuman untuk
berdiri diluar kelas hingga jam pelajarannya berakhir.
Malam harinya saat aku mengerjakan soal-soal fisika dari
bu Hana yang mana adalah hukuman lain dari bu Hana karena kesalahanku tertidur
dikelas dan harus dikumpulkan besok harinya. Dengan sangat tenang aku
mengerjakan hukuman ini tapi iba-tiba Rudi meneleponku dan saat aku terima
teleponnya.
“Dikaaaaaaaaaaaaaaaa!!!!! Kenapa kamu ga ngasih tau aku
kalau kamu ngirim puisi ke si Yessi?” Dia berteriak sekencang mungkin, hingga
aku terkejut dan menjauhkan ponselku sementara.
“Emang aku ga ngasih tau kamu?” Aku menjawab teleponnya
dengan agak kesal
“Belum, makannya aku nelpon kamu juga!”
“Yaudah maaf, lagipula aku udah di cai maki sama dia”
“Hahaha, sabar ya. Yaudah wassalam!” Sebelum aku menjawab
salamnya dia sudah menutup teleponnya. Yasudah aku melanjutkan untuk
mengerjakan hukumanku itu.
Saking asiknya mengerjakan hukuman dari bu Hana semalam,
tapi hari itu bu Hana tidak mengajar karena ada sesuatu y6ang harus ia
kerjakan. Akibatnya aku lupa bahwa ada tugas biologi yang lupa aku kerjakan.
Akupun diberi hukuman lagi yaitu merangkum tentang Tumbuhan Berbiji Terbuka
atau gymnospermae.
Minggu depannya di hari selasa, hari yang
kubenci setelah hari senin karena dua hari berturut-turut ada pelajaran fisika.
Ternyata tiba-tiba bu Hana mengadakan ulangan harian mendadak yang materinya
berhubungan dengan soal-soal yang diberikan bu Hana padaku sebagai hukuman.
Jadi, aku bias mengerjakan ulangan dengan mudah.
Setelah pelajaran fisika ada pelajaran biologi di saat
itu aku memberikan hukumanku yang lain yaitu merangkum. Tidak disangka bu Sari
guru biologiku itu mengadakan ulangan harian mendadak juga dan materinya pun
adalah materi yang aku rangkum sebagai hukuman dari bu Sari yang menurutku
sangat baik karena beliau dapat menerangkan materi dengan tertib dan teratur
tidak seperti bu Hana yang ‘jutek’ itu. Aku mengerjakan ulangannya dengan mudah
untuk kedua kalinya.
Minggu depannya saatnya hasil ulangan diumumkan. Ternyata
aku mendapat nilai tertinggi kedua di kelas setelah Rudi pastinya. Dan mulai
hari itu juga Yessi mulai mendekatiku lagi. Mungkin dia piker aku sudah bertambah
pintar, sungguh bahagianya hari selasa di bulan Februari itu.
RSS Feed
Twitter






Sabtu, April 28, 2012
Edfan Novaldy
Posted in 



